Sejarah Tari Kecak, Fungsi, dan Perkembangannya Hingga Kini

Mungkin Anda pernah liburan ke Bali dan melihat sajian seni yang luar biasa, Tari Kecak. Begitu indah, kan, tariannya? Tapi, tahukah Anda mengenai sejarah Tari Kecak? Apalagi, sebenarnya Tari Kecak ini memiliki makna mendalam yang berhubungan dengan keindahan, nilai religius dan pesan moral, lo! Seperti apa sih sejarahnya?

Sejarah Tari Kecak
Sejarah Tari Kecak merupakan tarian tradisional Bali. Sebenarnya sebuah ritual pemujaan masyarakat Bali kuno pada Tuhan dan roh leluhur mereka.

Sejarah

Tari Kecak merupakan tari tradisional dari Bali yang sebenarnya merupakan sebuah ritual pemujaan masyarakat Bali kuno pada Tuhan dan roh leluhur mereka. Tari Kecak ini sering juga disebut sebagai ritual Shangyang. Pada ritual ini, para penari biasanya sudah tidak dalam kondisi sadar lagi.

Awal mula tarian ini diciptakan oleh seorang seniman asal Bali dengan nama Wayan Limbak dan seorang temannya yang berasal dari Jerman bernama Walter Spies. Tarian ini pada mulanya diciptakan secara tak sengaja setelah melihat ritual pemujaan yang bernama ritual Shangyang.

Sedangkan asal usul nama Kecak sendiri berasal dari ucapan para penari laki-laki yang terus menyebutkan kata cak cak cak selama pementasan. Selain dikarenakan ucapan penari laki-laki tersebut, sejarah Tari Kecak dari namanya ini juga dikarenakan alunan musik tari tersebut yang berasal dari suara krincingan yang diikatkan pada kaki penari tokoh Ramayana.

Apa Saja Fungsi Tarian Ini?

Sebenarnya, tarian ini memiliki banyak sekali fungsi. Pertama, tarian ini mengandung nilai seni yang sangat tinggi. Meski tak diiringi oleh musik dan gamelan seperti kebanyakan tarian lain, nyaranya tarian ini memiliki nilai seni yang tinggi. Ini bisa dilihat dari gerakan kompak yang dibuat para penari.

Selain itu, tarian ini juga berfungsi sebagai kepercayaan terhadap Tuhan. Tari Kecak ini merupakan adegan di mana Rama meminta pertolongan pada Dewata untuk menolong dirinya. Tak hanya itu, tarian ini juga dipercaya sebagai bentuk ritual untuk meminta pertolongan dewi yang bisa mengusir kekuatan jahat dan penyakit yang ada di sana.

Tari Kecak ini ternyata sangat kaya akan pesan moral juga. Pesan moral yang terpampang dari tarian ini adalah kesetiaan dari Shinta terhadap suaminya Rama. Selain itu, ada juga kisah tentang Burung Garuda yang rela mengorbankan sayapnya demi menyelamatkan Shinta dari Rahwana.
Dari kisah ini, Anda diajarkan untuk tidak memiliki sifat buruk seperti Rahwana yang tak hanya serakah, namun juga suka mengambil milik orang lain secara paksa dan tak peduli dengan sekitarnya.

Perkembangan Tari Kecak

Selama ini Tari Kecak dikenal selalu mementaskan cerita tentang Ramayana dan Shinta. Awalnya hanya sebagai perwujudan untuk menyembah Tuhan, mulai tahun 1930 melalui penemunya Tari Kecak ini mulai terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan, pada tahun 2018 lalu, tepatnya di tanggal 25 Februari 2018, Tari Kecak sempat meraih rekor MJRI.

Rekor itu didapat atas pementasan Tari Kecak di Pantai Berawa yang ditarikan oleh 5555 siswa di Badung, Bali. Sekarang, Tari Kecak tak hanya mementaskan kisah Ramayana saja. Kini juga ada pementasan Kecak Subali dan Sugriwa yang diciptakan pada tahun 1976 dan Tari Kecak Dewa Ruci yang diciptakan pada tahun 1982 oleh I Wayan Dibia.

Itulah sepenggal sejarah Tari Kecak, fungsi dan perkembangannya hingga saat ini. Sebagai warga Indonesia, Anda patut berbangga dengan tari ini. Pasalnya, tari ini tarian unik khas Indonesia yang tak dimiliki oleh negara lain. Tari yang dikenal dengan nama The Monkey Dance ini juga sudah terkenal sebagai ikon kebudayaan daerah Indonesia di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *