Keunggulan Lampu LED dan Polusi yang Diakibatkannya

Keunggulan lampu LED diantaranya, murah, hemat energi dan tahan lama | sumber foto: shopee.co.id

Jika dulu lampu LED digunakan hanya untuk keperluan terbatas saja, kini dengan seiring berkembanganya teknologi yang semakin pesat, lampu LED mulai dilihat sebagai teknologi masa depan. Teknologi yang hemat energi, tahan lama dan murah.

Selain itu, lampu LED juga memiliki banyak keunggulan. Seperti, ukurannya yang sangat compact, hemat energi, membutuhkan perawatan yang minim, memiliki usia yang panjang, serta tidak mudah pecah seperti lampu pada umumnya.

Namun, dibalik banyaknya keunggulan ternyata lampu LED dapat menyebabkan polusi cahaya yang besar di seluruh planet Bumi. Sehingga hal ini memunculkan konsekuensi besar yang dapat mengancam kesehatan manusia dan hewan di Bumi.

Pengertian dari LED (Light-Emitting Diode) adalah sebuah komponen elektronik semikonduktor yang memiliki kemampuan untuk memancarkan cahaya kemungkinan radiasi sinar UV atau inframerah. Umumnya, LED digunakan untuk penerangan seperti lampu dan digunakan oleh banyak perangkat pensinyalan cahaya.

Pandangan Para Ilmuwan tentang Penggunaan LED

Beberapa ilmuwan juga telah menjelaskan untuk pertama kalinya tentang seberapa besar perubahan dari teknologi LED. Mereka telah menunjukan sebuah data satelit yang menggambarkan kondisi malam di Bumi. Penggunaan LED menjadi lebih terang dengan intensitas cahaya buatan yang juga telah meningkat sebesar 2,2 persen sekitar tahun 2012 dan 2016.

Menurut isi artikel yang telah terbit di Science Advances, para ilmuwan menjelaskan bahwa dampak negatif yang ditimbulkan dari penerangan bumi kepada manusia. Melihat pengetahuan dampak buruk cahaya pada jam internal tubuh manusia bisa menimbulkan peningkatan resiko depresi, kanker, atau diabetes.

Kabar buruknya lagi akan ada efek pada hewan, yaitu akan menimbulkan tidak memiliki kemampuan adaptasi sebaik manusia.

Lalu penerangan yang terjadi pada bumi juga akan menyebabkan lingkungan hewan semakin terganggu bahkan bisa menyebabkan kematian pada hewan. Misalnya seperti, ketika daerah yang sangat terang saat malam akan menimbulkan rute migrasi burung dan kura-kura laut terganggu.

Menurut Chris Kyba seorang peneliti Jerman yang ikut dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa masalah sebenarnya bukan yang terdapat di lampu LED itu sendiri, melainkan ada pada diri manusia.

Sedangkan lampu LED memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga dalam mengkonsumsi listrik jauh lebih sedikit daripada teknologi lampu pada umumnya. Hal seperti inilah yang menyebabkan para pengguna memakai jadi berlebihan.

Studi ini juga didasarkan dari pengamatan radiometer pertama yang dirancang khusus untuk terus memantau lampu malam yang disebut dengan VIIRS (visible / Infrared Imager Radiometer Suite). Pengamatan ini berbasis pada satelit Amerika Serikat Suomi NPP yang memang telah beredar di Bumi sejak musim gugur tahun 2011 lalu.

Wow! LED mengganggu keseimbangan biologis manusia?

Sementara itu, para periset juga menganalisis pencahayaan malam di bulan Oktober hanya untuk mendapatkan data yang memadai. Dan juga menghindari hiasan Natal yang juga telah meningkatkan luminositas dalam beberapa tahun belakangan di Belahan Bumi Utara.

“Pencahayaan seperti ini akan terus tumbuh di Amerika Selatan, Asia bahkan Afrika,” ungkap penulis tersebut. Sedangkan yang ditemukan untuk area gelap sedikit sekali, terutama pada daerah dengan konflik perang seperti Yaman dan Suriah.

Lalu penulis lain penelitian ini, Franz Holke dari Leibnitz Institude juga mengklaim bahwa data ini akhirnya menunjukan betapa pentingnya masalah dari penyinaran yang berlebih terhadap bumi. “Bahkan saat ini orang-orang banyak yang tidak memikirkan harga yang harus dibayar dari terlalu banyaknya memanfaatkan cahaya,” kata Franz.

Bahkan pencahayaan yang sangat berlebihan di malam hari bukan hanya mengganggu keseimbangan biologis manusia dengan alam. Namun, juga dapat mengganggu para astronom untuk meneliti langit namun juga membuang biaya yang tinggi.

Temuan ini juga bukanlah lah yang mengejutkan, namun jika melihat angka pertumbuhan secara spesifik mencapai 2,2 persen menentukan bahwa tren ini akan terus berkelanjutan.

Pendapat yang sama juga di ungkapkan oleh J. Scot Feieraben yang merupakan Direktur Eksekutif The international dark-sky association. Menurut J. Scott, para komunitas ilmuwan berusaha untuk memperingatkan kepada warga tentang resiko pencahayaan di malam hari selama bertahun-tahun. Namun masalah ini bukan berarti tidak bisa dipecahkan.

Solusi terbaik yang bisa dilakukan oleh orang-orang adalah dengan melakukan perubahan yang relatif mudah dan efektif. Contohnya seperti, mematikan lampu LED saat tidak digunakan, menaruhnya dengan posisi yang tidak menghadap ke langit, serta menggunakan lampu dengan pencahayaan yang lebih redup.

Karena menurut para ilmuwan di tahun 2020, lampu LED diperkirakan akan menyumbang 61 persen dari pencahayaan global. Untuk itu, ayo kita save energy agar bumi semakin sehat!

Share this post on social media:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *