Kaya Menurut Islam, Benarkah Berbahaya?

Benarkah kaya menurut Islam berbahaya? – Salah satu impian banyak orang adalah menjadi kaya. Dengan kekayaan, kita akan lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan kita bisa membeli apa pun yang kita inginkan. Namun, bersamaan dengan hal tersebut, muncullah persepsi beberapa orang yang mengatakan bahwa “kaya itu berbahaya”.

Adanya sajian gurih kali ini akan menantang persepsi tersebut. Nah, lantas bagaimanakah kaya itu jika dilihat dari kacamata Agama Islam? Sajian ini yang akan menjawabnya.

1. Dari segi fitrah manusia

kaya menurut islam

kaya adalah salah satu fitrah manusia. Sumber gambar: hikmah-harian-republika.blogspot.com

Manusia adalah makhluk sosial. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia akan selalu membutuhkan satu sama lain. Mengenai masalah kaya, semua orang pasti memimpikan hal tersebut. Mengapa? Karena inilah yang menjadi fitrah manusia, yakni kaya. Tentu, kaya di sini memiliki banyak penafsiran, baik kaya hati, iman, intelektual dan salah satunya kaya harta.

Di dalam suatu Hadits menjelaskan bahwasanya mukmin yang kuat itu lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT daripada mukmin yang lemah. Nah, mukmin yang kuat di sini menyangkut banyak hal. Mulai dari kuat iman, taqwa, fisik, ilmu dan salah satunya ternyata adalah kuat dari segi ekonomi yang tidak lain adalah KAYA.

Tapi perlu Anda ketahui bahwa kaya dan miskin itu adalah dua pilihan yang berbeda. Untuk menjadi kaya seseorang harus memilih usaha dan upaya, sedangkan untuk menjadi miskin, mereka hanya perlu memilih untuk tidak melakukan apapun atau berpangku tangan.

Siapakah si-kaya itu? Ia adalah orang yang mau berusaha dan berupaya untuk mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Namun, hal itu tidaklah mudah seperti halnya membolak-balikkan tangan, melainkan butuh perjuangan yang besar. Tentu setiap orang memang punya hak untuk kaya, namun menjadikan hak sebagai kepemilikan perlu usaha dan upaya serta doa untuk mewujudkannya. Pakai rumus DUIT: Doa Usaha Ikhtiar Tawakkal.

2. Kaya menurut Islam

kaya menurut islam

Islam menganjurkan penganutnya untuk kaya. Sumber gambar: inginbelajarislam.wordpress.com

“…..padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.…” (Al-Baqarah: 275)

Ayat ini menafsirkan, dengan dihalalkannya jual beli maka tidak menutup kemungkinan di antara pelaku jual beli ada yang menjadi kaya.

Sekali lagi, ada yang kaya, bahkan banyak orang yang berdagang menjadi kaya. Kekayaan Rasulullah SAW sendiri adalah keuntungan yang banyak Beliau dapatkan dari berdagang.

Apakah ini salah? Tentu saja, tidak. Yang salah dan dilarang berdasarkan ayat di atas adalah kaya melalui jalan yang tidak baik, yakni dengan riba (rentenir dan lintah darat)

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi..…” (Al-Jumu’ah: 10)

Perlu digaris bawahi kalimat “Bertebaranlah kamu di muka bumi..“. Apa maksud kalimat tersebut?

Yah jelas, tidak lain untuk mencari rezeki dan harta kekayaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, sebelum itu ada baiknya jika seseorang shalat dan berdoa terlebih dahulu, khususnya penganut agama Islam.

Mengapa harus shalat dan doa dulu? Kan bisa tanpa keduanya?

Orang yang beragama dan percaya Tuhan bukanlah orang Ateis, bukan? Tentu cara berpikirnya pun juga berbeda. Di sini akan dipaparkan alasannya mengapa sebagai orang Islam Anda harus shalat dan berdoa.

Pertama, coba Anda pikir dan renungkan,

  • Rezeki dan kaya yang tentukan siapa?
  • Yang bagikan siapa?
  • Yang kasih siapa?

Intinya, penyebab segala sesuatu baik tidaknya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi perbaiki dulu hubungan vertikal Anda dengan Tuhan. Caranya? Yakni dengan memperbaiki ibadah kepada-Nya, betul? Dengan beribadah terlebih dahulu, Tuhan akan memudahkan Anda dalam mencari rezeki dan kekayaan.

Kedua, apa sih bedanya orang yang shalat dan tidak? Mana yang lebih berkah rezeki dan kekayaannya? Anda sendiri yang jawab! Jangan sampai karena Anda tidak shalat sehingga rezeki yang diberikan Tuhan itu tidak berberkah. Nah, ini yang berbahaya, ketidakberkahan tersebutlah yang bisa saja berubah menjadi bahaya.

Sudah jelas dari sudut pandang agama, kaya menurut Islam itu secara mendasar sebenarnya sangat dianjurkan karena dengan kaya:

  • kita lebih mudah memenuhi kebutuhan hidup;
  • lebih mudah beribadah;
  • mudah untuk bersedekah dan berinfaq;
  • lebih mudah menafkahi keluarga;
  • kita lebih mudah menuntut ilmu, dan sebagainya.

Bagaimana dengan fakir miskin?

Bukankah sudah jelas mereka itu (fakir miskin) tergolong orang yang berhak disedekahi dan dizakati? (kurang lebih begitu). Perlu anda ketahui, Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

“Seandainya kemiskinan itu berwujud manusia, niscaya aku akan membunuhnya”

Itu artinya kemiskinan adalah salah satu hal yang paling dibenci dalam agama, sedangkan kaya? Iblis juga sangat membenci orang kaya yang bersyukur. Apa tanda kesyukurannya? Iblis menjawab bahwasanya tanda kesyukuran orang terebut adalah ia mengambil kekayaannya dari tempatnya dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.

Maksudnya? Kekayaan dari tempatnya tidak lain artinya kekayaan yang diperoleh dengan jalan yang baik.

Ini artinya iblis sangat membenci orang kaya yang senantiasa bersyukur dan mampu mempertanggung-jawabkan dari mana dan kemana kekayaannya tersebut digunakan.

Masih ada lagi. Allah SWT berkata dalam hadits Qudsi bahwa Dia mencintai orang fakir yang rendah hati, sedangkan Dia sangat mencintai orang kaya yang rendah hati, karena orang tersebut punya alasan untuk berlaku sombong, tapi ia tetap rendah hati. So, be a humble rich man!!

Jadi intinya, kaya menurut Islam itu tidaklah berbahaya selama:

  • cara memperolehnya baik dan benar;
  • pemiliknya mampu mempertanggungjawabkan darimana dan kemana kekayaan tersebut;
  • pemiliknya senantiasa bersikap baik, rendah hati, menjaga hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia, tidak sombong, berlebih-lebihan, boros, hidup sederhana dan dermawan;
  • dan ingat pesan saya, kekayaan dan kemiskinan tidak lain adalah ujian Tuhan kepada hambanya. Jadi, hati- hati dengan kekayaan!

3. Sudut pandang sosial kemasyarakatan

kaya menurut Islam

Kekayaan akan bermanfaat jika dipergunakan untuk menolong sesama. Sumber gambar: csrpdamkotabogor.wordpress.com

Sudah menjadi rumus baku di dunia ini dimana ada yang namanya miskin dan juga kaya. Baiklah, seperti yang dipaparkan di atas tadi bahwa sudah jelas kaya itu tidaklah berbahaya, justru dianjurkan dalam agama Islam.

Menurut saya, kekayaan itu ibarat pedang, bilahnya dapat membawa manfaat dan bahaya tergantung dari pemakainya mau diapakan. Selama dia memakai kekayaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan dirinya, keluarganya dan untuk sesama/kepentingan sosial, maka itu jauh lebih baik. Sebaliknya, jika dia memakainya untuk hal-hal yang negatif, yah sudah jelas kekayaan tersebut membawa bahaya.

Dengar, Nabi saja yang kaya tetap hidup sederhana. Alih-alih bermewah-mewah, beliau justru lebih memilih memanfaatkan hartanya untuk menolong sesama/kepentingan sosial.

4. Paham “Cinta uang adalah akar dari segala kejahatan”

kaya menurut islam

Robert Kiyosaki menolak paham cinta uang adalah akar dari segala kejahatan. Sumber gambar: www.bigfatpurse.com

Bagaimana dengan paham yang satu ini? Menurut saya tergantung sih. Maka dari itu, kita perlu merevisi kembali skala prioritas kecintaan. Kalau “cinta uang” dinomor satukan, bisa jadi paham ini betul dan benar terjadi. Tetapi jika “cinta Tuhan” yang dinomor satukan, saya rasa paham ini tinggallah kenangan.

Saya perjelas kembali, bukankah Tuhan yang memberi kita rezeki dan kekayaan? Saya rasa demikian.

Faktanya, salah satu tokoh terkenal, Robert Kiyosaki yang notabene-nya juga seorang pengusaha dan pengajar ilmu kekayaan menolak mentah-mentah paham tersebut. Jadi karena alasan apa lagi anda berpangku tangan. Yuk, saatnya mencari kekayaan dengan cara yang baik lagi halal.

Note: Tulisan ini adalah konstribusi dari admin blogcarauntuk.org dengan pengeditan seperlunya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *