Penyakit Asma, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

Penyakit asma dan pencegahannya

Penyakit asma dan pencegahannya

Apakah Anda mengalami kesulitan bernapas saat musim hujan tiba? Atau merasa sulit bernapas jika berada di lingkungan yang berdebu? Jika hal itu terjadi, kemungkinan Anda menderita penyakit asma.

Penyakit asma bukan merupakan penyakit yang menular. Orang yang mengidap asma biasanya dapat dilihat dari ketika ia mengalami kesulitan saat bernapas. Terjadi karena adanya penyempitan saluran pernapasan yang disebabkan oleh beberapa faktor eksternal. Untuk lebih jelasnya, berikut akan kita uraikan tentang penyakit asma ini tentang penyebabnya, cara pengobatannya, maupun usaha pencegahannya.

Para ahli kesehatan dan dokter di Amerika Serikat memperkenalkan metode Asthma Control Test atau dalam Bahasa Indonesia disebut Tes Kontrol Asma (TKA). Tes tersebut berupa formulir berisi 5 pertanyaan tentang penyakit asma yang diderita oleh pasien asma. Formulir ini dapat diperoleh jika kita mengunjungi dokter untuk mendapatkan pengobatan. Setiap pertanyaan TKA memiliki nilai dari 1 sampai 5. Nilai terendah adalah 5 dan nilai tertinggi adalah 25. Penafsiran terhadap nilai yang diperoleh terbagi menjadi 4 jenis asma, yaitu: 1) Asma tidak terkontrol; 2) Asma terkontrol buruk; 3) Asma terkontrol baik; dan 4) Asma terkontrol total. Penilaian berdasarkan nilai tersebut akan membantu dokter untuk menentukan sikap dan analisisnya, apakah pengobatan yang sedang dilakukan oleh pasien dilanjutkan, diganti jenis obatnya, dinaikkan dosis obatnya, atau diturunkan dosis obatnya.

Penyakit Asma

Kata asma berasal dari bahasa Yunani, yaitu asthma yang berarti sulit bernapas. Penyakit asma merupakan keadaan di mana saluran pernapasan mengalami penyempitan. Penyempitan tersebut bersifat sementara dan dapat dipicu oleh berbagai rangsangan dari luar. Misalnya, serbuk sari bunga, debu, bulu binatang seperti bulu kucing atau anjing, asap rokok atau knalpot, udara dingin di musim hujan, atau perubahan cuaca, dan saat atau setelah melakukan kegiatan olahraga.

Penyebab Asma

Saat terjadi serangan asma, otot yang terdapat pada saluran pernapasan mengalami kejang. Sistem jaringan yang melapisi saluran pernapasan mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pembentukan lendir di dalam saluran tersebut. Hal itu akan mempersempit saluran pernapasan dan penderita mengalami kesulitan bernapas.

Biasanya, penyakit asma disertai dengan batuk. Ketika bernapas akan terdengar bunyi. Menangis atau tertawa keras juga dapat mengakibatkan serangan asma bagi penderitanya.

Gejala awal penyakit asma pada anak-anak dapat berupa rasa gatal di dada atau leher. Anak akan menderita batuk tidak berdahak (batuk kering) di malam hari atau saat melakukan kegiatan seperti olahraga.

Jika kulit penderita asma tampak kebiruan, harus segera dibawa ke rumah sakit atau dokter terdekat. Kejadian tersebut menandakan bahwa penderita memiliki persediaan oksigen yang sangat terbatas di dalam tubuhnya karena sangat sulit bernapas.

Pengobatan Asma

Pengobatan asma dilakukan dengan menentukan penyebabnya. Perlakuan tes alergi pada kulit dapat membantu untuk menentukan penyebab penyakit asma. Jika tes tersebut masih meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan spirometri berulang dan bronchial challenge test. Pemeriksaan spirometri dilakukan untuk menentukan seberapa besar penyumbatan saluran pernapasan saat terjadi serangan asma.

Obat-obatan seperti agonis reseptor beta-adrenergik dapat mengurangi serangan asma yang timbul secara tiba-tiba dan mencegah serangan asma saat melakukan kegiatan olahraga. Obat tersebut bekerja pada semua reseptor beta-adrenergik dan memiliki efek samping, yaitu mempercepat denyut jantung, gelisah, sakit kepala, dan gemetar. Obat yang bekerja dalam sel di paru-paru memiliki sedikit efek samping.

Obat-obatan penyakit asma tersedia dalam bentuk tablet, suntikan, inhaler (obat yang dihirup). Inhaler bekerja dengan cepat tetapi tidak menjangkau saluran pernapasan yang mengalami penyumbatan hebat. Obat-obatan berbentuk tablet atau suntikan bekerja dengan lambat tetapi dapat menjangkau saluran pernapasan yang mengalami penyumbatan hebat. Obat-obatan berbentuk tablet atau suntikan memiliki efek samping, misalnya: kejang atau denyut jantung berdetak lebih cepat jika jumlah obat yang diberikan terlalu banyak. Penderita juga dapat mengalami insomnia (sulit tidur), kecemasan yang berlebihan, dan muntah.

Baru-baru ini telah dikembangkan obat-obatan penyakit asma yang memiliki sedikit efek samping bagi penderitanya. Obat berjenis kortikosteroid (obat antialergi dan antiradang yang disalurkan ke tubuh melalui peredaran darah) dapat meminimalisir serangan asma dengan mengurangi kepekaan saluran pernapasan terhadap rangsangan benda asing. Namun, penggunaan tablet atau suntikan berjenis kortikosteroid dalam waktu lama dapat menimbulkan efek samping, seperti:

  1. gangguan pada proses penyembuhan luka;
  2. menghambat pertumbuhan pada masa kanak-kanak;
  3. mengurangi jumlah kalsium dalam tulang;
  4. pendarahan di lambung;
  5. menyebabkan timbulnya katarak dini pada mata;
  6. meningkatkan kadar gula dalam darah;
  7. bertambahnya berat badan;
  8. kelaparan; dan
  9. kelainan mental.

Obat-obatan penyakit asma berjenis kromolin dan nedokromil sangat efektif dan aman bagi anak-anak. Obat-obatan tersebut mencegah terjadinya serangan asma dengan mengurangi penyumbatan saluran pernapasan dan bukan untuk mengobati saat terjadi serangan asma.

Biasanya, kadar oksigen dalam darah rendah jika terjadi serangan asma hebat. Oleh karena itu, penderita diberi tambahan oksigen. Jika terjadi dehidrasi (hilangnya cairan dalam tubuh), penderita diberi cairan melalui pembuluh darah berupa infus. Jika penderita sering mengalami serangan asma hebat, perlu dilakukan pemeriksaan kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah, pemeriksaan paru-paru, dan pemeriksaan melalui rontgen dada.

Pencegahan Asma

Serangan penyakit asma dapat dicegah jika penyebabnya diketahui dan dapat dihindari. Serangan asma yang disebabkan oleh kegiatan olahraga dapat dihindari dengan mengkonsumsi obat sebelum berolahraga. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan penyakit asma:

1. Menjaga Kesehatan Tubuh

Apabila penderita asma tidak mendapatkan asupan makanan bergizi dan berimbang, kondisinya semakin lemah. Akibatnya, penyakit lain dapat dengan mudah menyerang. Selain itu, penderita asma juga harus cukup beristirahat dan minum air putih yang banyak kecuali ada hal lain yang dilarang oleh dokter, dan berolahraga sesuai kondisi tubuhnya.

2. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Lingkungan rumah dan sekitarnya harus dijaga kebersihannya. Sebaiknya, rumah yang dijadikan tempat tinggal oleh penderita asma memiliki ventilasi yang cukup, tidak lembab, cukup mendapatkan sinar matahari, jauh dari pembuangan sampah, tidak memelihara binatang di dalam rumah, kamar tidur berisi sedikit barang-barang untuk menghindari debu, dan letak rumah tidak berada di jalan utama yang dominan terhadap polusi udara atau suara.

Lingkungan kantor juga perlu dijaga kebersihannya. Kantor yang menggunakan pendingin ruangan, sebaiknya dibersihkan secara teratur dan berkala. Hindarkan pemakaian karpet sebagai alas. Bersihkan dan rapikan meja kerja setelah digunakan agar terhindar dari debu yang menempel.

3. Menghindari Penyebab Serangan Asma

Sebaiknya, penderita asma menjauhi orang yang sedang sakit influenza. Penderita asma juga dianjurkan untuk menghindari tempat ramai dan sesak. Jagalah kondisi tubuh agar tidak mengalami kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu yang tajam, atau melakukan kegiatan olahraga yang berat. Jika penderita asma ingin berolahraga, lakukan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan untuk menggunakan obat pencegah serangan asma sebelum berolahrga.

Penderita asma sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang menggunakan zat pengawet. Zat pengawet makanan atau minuman diduga dapat memicu terjadinya serangan asma. Selain itu, zat adiktif makanan seperti penyedap masakan dapat juga memicu terjadinya serangan asma.

Jika kita hidup bersama penderita asma sebaiknya kenali gejala dan penyebabnya. Dengan mengenali faktor tersebut, kita dapat mencegah terjadinya serangan asma. Akhirnya, penyakit asma tidak lagi menjadi penyakit yang ditakuti meskipun kita perlu mewaspadainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *