Menyesuaikan Peran Barat Terhadap Kloset Toilet Anda

memilih kloset toilet

Kloset duduk salah satu toilet yang berasal dari Barat

Ada banyak pengaruh gaya hidup Barat dalam kehidupan kita. Mulai dari bahasa, makanan, peralatan teknologi, selera musik, hingga perlengkapan toilet. Pembentukan dan kemapanan dari pengaruh budaya Barat ini, masuk dan diterima secara perlahan, di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa bahasa, makanan, dan selera musik, masuk dan diterima lebih dulu di tanah air. Unsur penyebarannya tidak terlepas dari kedatangan bangsa Inggris, yang menjajah Indonesia selama tiga setengah tahun. Jauh lebih sebentar memang daripada eksistensi penjajah Belanda.

Yang harus Anda ingat, stabilitas perkembangan negara Inggris, pada tahun 1940-an, sebenarnya sudah sangat jauh melewati Belanda. Bahkan, sejak satu abad sebelumnya pun, Inggris sudah masyhur sebagai negara penemu peralatan teknologi, yang dikembangkan dan meluas pemakaiannya ke belahan dunia lain.

Pemakaian dan penerimaan budaya Barat yang berlangsung agak lambat di tanah air, adalah penggunaan peralatan teknologi dan perlengkapan toilet. Dua puluh tahun yang lalu, Anda tentu sulit membayangkan orang bisa duduk di kloset toilet sambil mengakses Twitter dan LINE Today.

Kloset yang Kebarat-baratan

Arus deras globalisasi jelas berperan penting dalam membawa gaya hidup Barat ke Indonesia. Hasilnya, serbuan merek global telah mengambil peran vital dalam konsumsi masyarakat. Sekarang Anda bisa menikmati Starbucks sambil mengunggah foto ke Instagram, yang akan rilis hitungan detik ke seluruh dunia.

Satu hal yang saya tidak habis pikir adalah pemenuhan kebutuhan buang air besar. Kebiasaan orang makan hamburger, seolah sejalan dengan kebutuhan orang buang air besar di atas kloset duduk. Peningkatan minat kloset duduk, terlihat jelas pada kriteria pembelian rumah. Tawaran rumah yang dijual oleh para pengembang tampaknya harus selalu mempertimbangkan ketersediaan jenis kloset tersebut.

Dilihat dari sejarahnya, perkembangan kloset duduk berkaitan erat dengan perubahan perilaku manusia dalam praktik sanitasi. Sir John Harrington, asal Inggris, merupakan orang pertama yang memperkenalkan konsep kloset bilas, sekitar pertengahan abad ke-16.

Konsep kloset toilet bilas yang diciptakan Sir John Harrington, masih memanfaatkan bejana sebagai penampung tinja. Penggunaan bejana ini belum mampu menghilangkan bau busuk yang disebarkan oleh tinja.

Menjelang akhir abad ke-18, kloset bilas Sir John Harrington mengalami penyempurnaan oleh Alexander Cummings. Beliau berhasil mengatasi bau busuk dengan merancang katup. Oleh karena itu, penemuan Alexander Cummings juga dikenal dengan sebutan valve closet.

Valve closet versi Alexander Cummings didukung saluran pembuangan leher angsa, yang menyerupai huruf S. Bentuk saluran semacam ini mampu membuat air menggenang di leher angsa.

Akan tetapi, perkembangan kloset toilet tidak berhenti di situ. Mewabahnya penyakit kolera di London, telah menginspirasi kebutuhan lain terhadap perkembangan kloset. Kolera London, yang telah menewaskan 29.000 jiwa dalam kurun waktu 17 tahun, dianggap sebagai dampak dari tidak terpenuhinya syarat sanitasi yang baik.

Pengelolaan saluran air bawah tanah mulai digagas seiring penetapan Undang-Undang Kesehatan Masyarakat. Aturan ini mengharuskan setiap rumah harus memiliki kloset siram (water closet). Akhirnya, tahun 1865, saluran-saluran air bawah tanah kota London dinormalisasi kembali.

Menikmati Proses Akhir Kloset

Lima tahun setelah normalisasi saluran air, perkembangan kloset disempurnakan dengan model gravitasi yang mampu mendorong air keluar rumah. Pencetusnya adaah S.S. Helior, dengan temuan water closet yang disebut “optims”. Peran penyempurnaan kloset juga dilanjutkan oleh Thomas Crapper dan Daniel Bostel, menjelang pergantian abad ke-19.

Selanjutnya, sejak tahun 1890 sampai sekarang, proses penyempurnaan kloset lebih banyak terjadi pada sisi estetika. Fokus penyempurnaan estetika pada bentuk dan desain ini, disesuaikan juga dengan kebutuhan volume air. Dampaknya, masyarakat menjadi lebih sadar agar boros dalam menggunakan air.

Sebagai pelengkap gambaran, berikut ini hal-hal yang sangat perlu Anda pertimbangkan ketika akan memilih kloset duduk.

Bentuk dan Ukuran

Kloset toilet duduk umumnya ditawarkan dalam tiga bentuk, yakni monoblok, duo-blok, dan wall hung. Perbedaan ketiganya terletak pada keberadaan tangki air. Sesuaikan juga ukuran kloset agar tidak mengganggu kenyamanan Anda. Ukuran ideal untuk orang berkaki panjang adalah 16-17 inci. Sementara untuk Anda yang bertubuh tidak terlalu tinggi, ukuran pasnya adalah 14-15 inci.

Sistem Penyiraman (flush)

Dua tipe sistem penyiraman kloset toilet yang bisa Anda pilih adalah single flush dan dual flush. Tipe single flush biasanya menggunakan tombol atau tuas yang harus ditarik ke atas. Sedangkan tipe dual flush, menggunakan perbandingan 3:6 liter air sesuai ukuran tombol yang tersedia.

Corak dan Warna

Pertimbangan corak dan warna, bisa Anda sesuaikan dengan selera dan keperluan interior di dalam toilet. Simpel boleh, tapi usahakan tetap menarik dan jangan ala kadarnya.

Aksesori Pendukung

Selanjutnya, cari dan pilihlah aksesori pendukung agar kloset toilet Anda tidak tampak kusam. Jangan sampai rekan bisnis yang berkunjung ke rumah Anda, membatalkan kerja sama karena menganggap Anda memiliki selera yang buruk.

Bajet

Kalau empat pertimbangan sebelumnya sudah Anda tentukan, berarti sekarang tinggal menyesuaikan dengan ketersediaan bujet. Seperti memilih corak dan warna, bijaklah mengalokasikan bujet untuk memilih kloset. Tidak perlu terlalu besar, tapi juga jangan murahan.

Itulah beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan saat menentukan kebutuhan kloset toilet Anda. Sekedar informasi, meskipun kloset toilet duduk terkesan lebih modern, namun kloset jongkok lebih disarankan untuk toilet kita karena pada saat kita buang air besar (BAB) dengan posisi jongkok akan membantu mempermudah tinja turun ke saluran pembuangan (anus). Semoga bermanfaat!

Comments
  1. Walaupun sekarang fenomena kebarat-baratan sedang eksis termasuk dalam hal kloset, tapi saya setuju dengan pernyataan terakhir bahwa kloset jongkok sebenarnya lebih sehat dan dianjurkan. Dengan posisi jongkok akan menambah tekanan untuk melancarkan pengeluaran BAB dan lagian lebih berasa ‘bersih’ ketimbang duduk hehe

    • inulwara

      Tepat sekali mbak! Dan itu sudah direkomendasikan oleh para ahli kesehatan bahwa toilet jongkok lebih baik daripada toilet duduk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *